Menulis tentang film

Tulisan ini dibuat untuk pendidikan calon kru bidang Kineklub LFM ITB.

Kamu suka nonton film? Banyak menghabiskan waktu luang dengan nonton film? Senang memperhatikan detil dalam film? Punya pendirian kuat tentang film yang bagus dan yang jelek? Ingin mengungkapkan kenapa film yang baru kamu tonton nggak sebagus yang semua orang bilang?

Kenapa nggak menulis?

“Susah ah nulis!”
“Gue nggak bisa nulis”
“Mau sih, tapi niatnya itu lho”

Tenang, tulis-menulis tentang film (atau tentang apapun) memang bukan bakat yang turun dari langit yang ditujukan untuk makhluk-makhluk terpilih. Menulis tentang film sama dengan berenang atau naik sepeda atau angkat barbel, sebuah kemampuan yang bisa dipelajari dan akan makin terasah jika dilakukan terus-menerus. Kenapa harus dalam bentuk tulisan, tanya kamu lagi? Singkat kata, tulisan itu adalah bentuk paling konkrit dalam mengekspresikan pendapat kamu. Jika disetarakan dengan videografi dan fotografi, ketika mereka syuting dan hunting, maka kineklub berdiskusi dan berdebat. Dan film dan foto yang dihasilkan dapat disandingkan dengan tulisan film kineklub! Namun, yang berbeda adalah di dalam kineklub, kegiatan berdiskusi adalah sama pentingnya, jika bukan lebih penting, dari hasil tulisan film itu sendiri. Saat proses berdiskusi dan bertukar pendapat berjalan dengan baik, maka tulisan yang dihasilkan dapat semata berupa kulminasi atau penyimpulan dari keseluruhan proses tersebut.

Seberapa penting sih menulis tentang film? Tulis-menulis tentang film adalah aspek yang tidak terpisahkan dari sejarah dunia perfilman itu sendiri. Sejak munculnya majalah Cahiers du Cinéma yang memicu nouvelle vague sinema Perancis tahun 1950an hingga era Rotten Tomatoes yang mengakumulasi kumpulan resensi menjadi sebuah persentase, di masa kini semua orang bisa menulis dan memublikasikan tulisannya secara online, termasuk lewat situs kineklub.lfm-itb.com sendiri. Tulisan tentang film memiliki perannya tersendiri dalam memengaruhi opini publik dan mendorong industri perfilman untuk terus bereksperimen ke ranah yang baru. Banyak nama menjadi besar hanya dengan menjadi kritikus film, seperti Nathan Rabin yang mengenalkan istilah Manic Pixie Dream Girl, Armond White yang seringkali dihujat karena melawan arus, hingga Roger Ebert yang memiliki posisi kuat sejak puluhan tahun lalu. Masing-masing memiliki gayanya sendiri, yang terbentuk melalui ratusan tulisan yang diterbitkan. Lalu, harus mulai dari mana dong, kita yang suka film tapi jarang menulis ini?

Sebelum mulai melumat keyboard dengan jari kita, pertama perlu kita perhatikan dua jenis tulisan film yang sering muncul: resensi dan artikel.

Resensi umumnya mengangkat satu judul film, baik yang baru rilis maupun yang sudah lama, dan membahas dan menilai film tersebut secara mendalam, baik secara tema, cerita, maupun teknis, dan menyertakan pengalaman penulis dalam menonton film tersebut. Pemberian nilai akhir yang konkrit dan himbauan untuk menonton/menghindari film tersebut tidak wajib hukumnya, namun harus memiliki dasar yang kuat jika disertakan.

Artikel umumnya mengangkat sebuah topik yang muncul dalam satu atau beberapa film, dan memberikan sudut pandang penulis terkait topik tersebut dalam bentuk yang informatif. Penulis tidak menilai film-film tersebut secara menyeluruh melainkan hanya pada topik yang diangkat saja. Topik tidak terbatas pada unsur cerita dalam film saja, melainkan dapat mengangkat beragam aspek seperti sejarah sutradara (retrospektif), teknis kamera, nada warna hingga poster film.

Setelah mengetahui yang ingin kita tulis, untuk saat ini mari berfokus kepada resensi. Anggap kamu sudah nonton filmnya. Yang terjadi sekarang, semua pendapat kamu tentang film tersebut sedang berputar di dalam kepala. Tokoh B sangat dominan. Alur cerita berantakan. Gerak kamera inovatif. CGI lebih jelek dari Indosiar. Semua aspek tersebut harus kamu tuangkan sebelum lupa, tapi sekarang kamu bingung, mulai dari mana? Pada resensi film, umumnya terdapat struktur dasar yang bisa membantu kamu menjabarkan pendapat secara rapi. Mari coba dengan struktur yang satu ini:

  1. Perkenalan. Apa yang hendak diangkat film tersebut, apa yang bisa menimbulkan ketertarikan menontonnya, dan tidak lupa kenapa penulis ingin menonton film tersebut.
  2. Deskripsi. Menjelaskan tokoh dan cerita seperlunya dengan meminimalisir spoiler, agar pembaca memiliki gambaran namun masih cukup sedikit untuk membangun rasa penasaran.
  3. Analisis. Memberikan pendapat penulis akan film tersebut dari berbagai sisi, baik secara cerita, pemeran, maupun teknis, dan memberikan kesan baik maupun buruk yang didapat tanpa membeberkan cerita terlalu banyak.
  4. Kesimpulan. Gambaran keseluruhan akan film tersebut, dan pemujaan/penyesalan pribadi setelah menonton film tersebut.

Singkat dan jelas, bukan? Namun, resensi hanya “umumnya” berstruktur seperti itu, karena pada kenyataannya, tidak ada bentuk baku untuk menulis sebuah resensi. Poin-poin di atas hanyalah pemenuhan fungsi mendasar dari sebuah resensi film, dan pada akhirnya masing-masing penulis resensi akan mendapatkan bentuk tulisan yang paling nyaman untuknya setelah bereksperimen dengan bermacam gaya menulis.

Menulis artikel lebih memiliki kebebasan tersendiri karena bentuk tulisan yang digunakan bergantung pada isi tulisan sendiri. Seorang Pacze Moj dari MUBI Notebook bisa menulis analisis adegan awal dari Rashomon karya Akira Kurosawa, shot per shot, hingga 16 shot yang berbeda dan mengaitkannya dengan kubisme dan impresionisme. Penulisan artikel mendorong kita untuk menjamah seluas-luasnya agar bisa memberikan pengetahuan baru bagi pembacanya.

Untuk mencapai tulisan yang lebih baik, ada beberapa tips yang bisa dicoba:

  • Ambil jeda singkat setelah menonton. Terkadang film yang visualnya terlalu bagus akan memukau kita untuk segera menilainya sebagai karya terbaik abad ini. Tunggu beberapa waktu setelah menonton agar tulisan dapat dilakukan dengan kepala dingin, namun jangan berhari-hari hingga niat menulis keburu menguap.
  • Sertakan alasan yang kuat untuk pendapatmu. Menghujat Michael Bay memang enak, tapi dia tidak menghasilkan 1 milyar dolar dari Transformers tanpa alasan, kan? Jika kamu tidak suka sesuatu dalam film, ungkapkan secara rinci dan bila perlu sertakan perbandingan dengan film lain.
  • Tambahkan informasi dasar tentang film. Ada baiknya mencantumkan tahun rilis, sutradara, penulis naskah, dan beberapa pemeran utama di awal/akhir tulisan resensi agar pembaca di masa depan tidak membaca resensi Pirates yang salah, misalnya.
  • Hindari bahasa yang sulit dicerna. Tulisan film bukan puisi, dan penulis tidak perlu menginferensikan intelektualitas tanpa simplifikasi definisi yang malah berpotensi mengejawantahkan negativitas dari infatuasi yang hendak dipersonifikasikan.
  • Hindari spoiler. Tulisanmu akan dibaca juga oleh orang yang belum menonton film, dan pembaca mungkin tidak akan membaca tulisan kamu lagi jika tahu Tyler Durden adalah pribadi ganda sang tokoh utama dalam Fight Club dalam dua paragraf pertama. Siapa sih yang belum nonton Fight Club?

Nah, sekarang kamu sudah berbekal cukup untuk mulai menulis tentang film, atau bahkan sudah mulai menulis. Satu hal yang paling penting untuk diingat: tulislah karena kamu menyukai dunia perfilman! Untuk kamu, film lebih dari sekedar rilisan baru di bioskop yang ditonton saat pacaran, dan dengan menulis tentang film, kamu bisa membangun rasa penasaran ke lebih banyak orang dan memicu mereka (dan kamu sendiri) untuk mendalami perfilman Amerika, Eropa, Asia dan Indonesia, Hollywood, Bollywood maupun art house, dan film-film dari seluruh dunia yang luarbiasa banyaknya. Tulis dan tularkan semangat kineklub kepada semua!

About Kevin Aditya

Thank you for reading.

09. October 2012 by Kevin Aditya
Categories: LFM | 1 comment

One Comment

  1. saya sangat tertarik dengan artikel anda, kami juga mempunyai artikel, silahkan kunjungi website kami, Disini Happy Sharing

Leave a Reply

Required fields are marked *